Langsung ke konten utama

Tetua Adat dan Wisata Budaya Daerah

SELAMA INI, kita  mungkin tidak pernah mendengar  pengurus adat, tetua adat atau masyarakat adat  dilibatkan pemerintah daerah dalam menyusun masterplan pengembangan wisata budaya di suatu daerah.

Pemerintah terlihat berjalan sendiri, seolah tidak memiliki kepekaan dan  keseriusan dalam menggali potensi wisata budaya daerah, termasuk menghargai keberadaan para tetua adat. Bahasa awamnya” hanya memanfaatkan saja” budaya yang terlihat.

Pengembangan wisata budaya itu tidak tidak boleh parsial atau hanya dinilai dari pentas seni dan atraksi yang selama ini terlihat. Penggalian nilai-nilai dan praktik tradisi adat harus didukung lembaga adat dan masyarakat adat sebagai pemilik tradisi budaya. 

Ini dilakukan agar  pengembangan potensi wisata tidak bersifat eksploitative tapi lebih kepada upaya melestarikan dan menjaga martabat  budaya, serta tidak disalahgunakan danatau bertentangan dengan nilai-nilai luhur nenek moyang.

Pengurus adat inilah yang paling mengerti tradisi dan martabat adat dan budaya  mereka sendiri.  Mereka adalah ” Perpustakaan Hidup” yang memiliki kemampuan dan keahlian dalam menggali dan mengembangkan warisan  dan heritage leluhur .

Saya ingin mencontohkan apa yang dilakukan Pemerintah Venezuela dalam mengembangkan wisata budaya negaranya. Termasuk komitmen negara itu dalam  mengembalikan martabat masyarakat adat.  Para tetua adat dan pengurus adat selalu dilibatkan bersama-sama  pemerintah, mulai dari menggali  warisan budaya  kuliner, aktivitas kekeluargaan, pertanian, berburu hingga beragam  upacara  ritual lainnya. Kemudian dirumuskan oleh pengurus adat sebagai bagian dari tradisi yang dapat dijadikan pertunjukan wisata budaya.

Ini yang menarik, saking seriusnya menjaga tradisi budaya dan menghargai masyarakat adatnya, sampai-sampai Venezuela membangun universitas khusus bagi  masyarakat adat.

Universitas  yang  berdiri sejak tahun 2001 itu telah mendidik ratusan mahasiswa, yang mewakili 44 suku asli yang tersebar di berbagai Provinsi di Venezuela.

Mereka disiapkan menjadi pemimpin di kalangan masyarakat adat, yang diharapkan bisa mengembangkan wisata budaya dan menjaga dan tradisi masyarakat asli, termasuk  menjaga tanah dan hak-hak adat.

Mudahan-mudahan  hal ini dapat menjadi inspirasi  bagi pemerintah kita, terutama  pemerintah daerah yang ada di Kalimantan, untuk melibatkan  lembaga adat Dayak ( tetua adat dan masyarakat ada)  menjaga  tradisi  budaya yang indah, unik dan menarik ini tetap lestari dan dihargai, serta  mengembalikan martabat masyarakat adat yang selama ini  terus terdesak dan kehilangan hak-haknya.(*)


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Profil, Karier dan Pengalaman Presiden MADN Baru

SABTU ESOK, (6/11),  Dr Marthin Billa MM akan dikukuhkan sebagai Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) masa bakti 2021- 2026.  Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) Dapil Kalimantan Utara itu akan disahkan  secara adat pada jam 10.00 -12.00 WIB,  di  Hotel Santika, Slipi Jakarta. Bagi kamu yang belum mengetahui profil Presiden MADN baru tersebut,  silahkan  simak biofile beliau, berikut ini. BIODATA   Nama :  Dr. Drs. Marthin Billa, MM Tempat Tanggal Lahir : Nahakramo, 29 Maret 1954 Alamat :  Jl. Pusat Pemerintahan Malinau Nama Isteri :  Ny. Yuari Itun, BA Nama Anak :  1. Artya Fathra     2. Yurita Hopia   3. Yuritina Joisa   4. Yuritiani Hepi PENDIDIKAN 1984  : S1 Fisipol Unmul Samarinda 1999  : Program S2 Magister Management (MM) Universitas    Krisnadwipayana (UNKRIS) Jakarta 2005  : Program Doktoral S3 Spesialis Bidang Manajemen Publik ...

Desa Wisata Metun Sajau Kaltara

DESA METUN SAJAU merupakan salah satu desa wisata suku Dayak Kenyah yang berada di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.Desa Metun Sajau ditetapkan sebagai desa wisata oleh Kementrian Pariwisata RI pada tahun 2016. Mayoritas penduduk desa ini dihuni etnis Dayak Kenyah Bakung. Jarak menuju desa wisata ini sangatlah dekat, hanya 29 Kilometer dari Tanjung Selor, Ibu Kota Kabupaten Bulungan dan Provinsi Kaltara, atau sekitar 45 waktu tempuh perjalanan. Namun waktu tempuh bisa lebih cepat jika kondisi jalan yang sudah beraspal mulus. Desa Metun Sajau kental dengan budaya dan adat istiadat. Atraksi budaya dan pertunjukan seni seperti permainan olahraga tradisional dan tarian menjadi ciri khas yang dapat anda saksikan. Berikut beberapa pertunjukan dan permainan yang sering ditampilkan oleh penggiata budaya dan wisata Desa Metun Sajau: 1. ALENG Aleng merupakan permainan yang terbuat dari kayu. Aleng ini terdiri dari dua potong kayu, yang satu lebih panjang dan uj...

Media Alat Kepentingan Korporasi dan Politik

  Kasus   Pencemaran sungai Malinau akibat bocornya penampung limbah sejumlah   perusahaan di   wilayah itu beberapa waktu lalu , pada kenyataannya minim dilaporkan oleh   media lokal yang ada di Kaltara. Tak satupun media lokal yang membuat liputan mendalam dan komprehensif atas peristiwa pencemaran yang berulang kali itu. Padahal media-media lokal itu merupakan ruang publik (public sphere) yang dapat memberikan   informasi dan fakta-fakta yang mencerdaskan dan   melindungi hak publik masyarakat memperoleh informasi secara terbuka. Apalagi pencemaran itu jelas-jelas berdampak buruk pada masyarakat dan lingkungan. Jika pun ada Pemberitaan media lokal, liputannya   hanya    sekadar     kabar peristiwa atau soft news, yang hanya laporan kejadian semata. Tidak ada yang berani   menyentuh aspek hukum terkait   kewenangan pemeritah daerah dan pelanggaran perusahaan pelaku pencemaran. Fakta-fakta itu   mala...