Langsung ke konten utama

GENERASI YANG BERADAPTASI DENGAN KEUTAMAAN ZAMAN MEREKA SENDIRI

Generasi Yang Beradaptasi Dengan Keutamaan Zaman Mereka Sendiri

Hari itu,  istriku mengatakan ia   akan ke sekolah anak-anakku untuk mengambil rapot kenaikan kelas   mereka. Terus terang, aku  sempat merasa aneh  ketika  mendengar kalimat "kenaikan kelas " dari mulutnya.

Aku tercenung, dalam hati berkata " Gak salah ni, anak-anak sudah kenaikan kelas lagi?",  sambilku  mengingat-ingat    aktivitas belajar anak-anaku   dalam setahun ini.

Tahun lalu, kejadiannya hampir sama. Meski hanya dua bulan  saja mereka belajar dan ujian dari rumah.

Bukan aku meragukan  soal nilai dan kemampuan belajar mereka. Aku sangat tahu, karena saban hari   aku yang mendampingi    mereka belajar  di rumah. Bagaimana mereka menyelesaikan  tugas    dan  mengerjakan  setiap ujian sendiri . Intinya, tidak ada masalah  dengan nilai dan kemampuan belajar mereka di rumah. 

Siswa yang tidak pernah ke sekolah kemudian naik kelas apalagi sampai dapat  rangking, dalam dalam pandanganku kala itu adalah   hal yang sangat aneh dan absurb.

Apalagi anakku yang nomor dua, yang lulus dari sekolah dasar  tahun ini, nampak semua dilaluinya   biasa-biasa saja, tanpa beban dan tekanan. Tidak terlihat ketegangannya atau kesibukan, lazimnya anak-anak sebelumnya, yang pernah  menghadapi  ujian kelulusan.  Mungkin, karena ujiannya dikerjakan di rumah.

Ada rasa sumbang dengan  kebimbangan itu. Menurutku, mengerjakan tugas dan belajar di rumah itu hanyalah kewajiban ekstra  seorang siswa.  Kewajiban utama  mereka tetaplah  belajar di sekolah. Situasi belajar di rumah tidaklah sekondusif ketika belajar di sekolah.

Lagi pula, sekolah itu bukan hanya tempat  belajar anak-anak  mendalami ilmu saja, tapi     tempat bagi anak-anak untuk  belajar bermasyarakat, melatih kecerdasan emosional dan sosial mereka, belajar berteman,  belajar menghargai perbedaan, belajar budaya orang lain,  belajar bertoleransi dan berkompromi dengan yang lain.

Pengalaman belajar itulah  yang ku nilai telah  hilang dari anak-anak selama setahun lebih akibat pandemi ini. Pengalaman belajar yang sulit tergantikan dengan hanya belajar di rumah. 

Ada kecemasan soal fakirnya  kecerdasan sosial dan emosional mereka, akibat hilangnya aktivitas  interaksi sosial dan kemampuan bermasyarakat mereka. Hal ini dikuatirkan akan mempengaruhi massa depan mereka kelak.

Bayangkan selama setahun lebih, tidak ada interaksi fisik dengan  teman-teman dan guru-gurunya, semuanya dilakukan melalui  internet dan gadget.  Ruang-ruang kelas  hanya tersedia  di laptop, PC dan smartphone. Interaksi dan komunikasi hanya lewat  grup whatsapp, google meet dan zoom. Itupun hanya sebatas pelajaran dan tugas dari guru. 

Mereka mungkin sudah  lupa dengan nama-nama   dan rupa-rupa karakter teman-teman mereka. Mendengarkan tawa teman-teman mereka  hanya lewat layar gawai   saja. Mengekspresikan emosi mereka  hanya dengan striker, animasi dan emoticon.

Aku termenung dalam kecemasanku. Sampai  kemudian   kata-kata  William Arthurd Word menyadarkanku  akan situasi ini,

 “Orang yang pesimistis komplain tentang angin, seorang yang optimis berharap angin untuk berubah, seorang realistis menyesuaikan layar".

Kalimat itu seolah menegurku. Mungkin aku tidak  realitis dan kurang optimis menyikapi situasi  ini. Aku terlalu egois, pikiran masa lalu di otakku, kucemaskan   dengan  situasi kekinian anak-anakku.

Bukankah  situasi saat  ini  tidak  hanya dialami  anak-anakku saja. Mereka   tidak sendiri. Semua anak-anak di sekelilingnya, di kotanya, di negaranya, bahkan di dunia mengalami persoalan interaksi sosial yang sama, karena pandemi yang sama pula.

 Anak siapa sekarang ini yang punya ruang untuk membuka  diri   dalam kehidupan sosialnya? sekolah-sekolah, klub olahraga anak, wahana permainan, pusat kegiatan belajar dan ruang interaksi lainnya,  ditutup dan dibatasi.

Kekuatiran dan kecemasanku yang  menggangap situasi  ini bakal menghilangkan keterampilan sosial dan kehidupan bermasyakat mereka, adalah sesuatu yang sangat berlebihan bahkan eksesif. Padahal, aku  telah melewati kebiasaan ini bersama anak-anakku, tapi ternyata tidak dengan pikiranku.

Mungkin, aku terlalu  galau   melihat  interaksi sosial mereka. Yang lebih asyik berinteraksi  melalui gadget. Yang terlalu sering melepaskan   emosi    secara virtual.  Yang sangat nyaman menjalin  komunitas  pergaulan dunia maya. Tapi, itulah periodesasi kehidupan bermasyarakat anak-anak  itu saat ini.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana  seandainya pandemi ini terjadi dua puluh  tahun yang  lalu, dimana teknologi digital internet tidak secanggih saat ini.

Artinya, aku harus dituntut bersyukur dan memahami realitas saat ini, bahwa inilah dunia anak-anakku sekarang, internet dan teknologi adalah cara dan media  mereka untuk bermasyarakat. 

Anak-anakku tidak akan menghadapi satu era dunia yang membuat mereka  kehilangan dunianya, kehilangan daya tahannya dan kehilangan kemampuan bertahan hidupnya.

Anak-anak itu akan  menghadapi satu generasi yang sama, yang  memiliki persoalan  sosial dan masalah kehidupan  yang setara dengan  mereka. Generasi yang  beradaptasi dan survive menciptakan hikmah dan khitah di zaman mereka sendiri. Generasi yang  terpilih untuk melalui keutamaan episode hidup mereka.

Yang bisa  aku  lakukan adalah  membangun optimisme, buat diri ku  dan anak-anakku  nyaman dengan perubahan ini, bukan menolak apalagi  membencinya. Biarlah kreatifitas dan tantangan yang ada membuat diri mereka  relevan merespon perubahan ini. Kata Charles Darwin " Bukanlah yang terkuat atau terpintar yang dapat bertahan, melainkan mereka yang paling mampu beradaptasi dengan perubahan."

Tommy Manggus

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Profil, Karier dan Pengalaman Presiden MADN Baru

SABTU ESOK, (6/11),  Dr Marthin Billa MM akan dikukuhkan sebagai Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) masa bakti 2021- 2026.  Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) Dapil Kalimantan Utara itu akan disahkan  secara adat pada jam 10.00 -12.00 WIB,  di  Hotel Santika, Slipi Jakarta. Bagi kamu yang belum mengetahui profil Presiden MADN baru tersebut,  silahkan  simak biofile beliau, berikut ini. BIODATA   Nama :  Dr. Drs. Marthin Billa, MM Tempat Tanggal Lahir : Nahakramo, 29 Maret 1954 Alamat :  Jl. Pusat Pemerintahan Malinau Nama Isteri :  Ny. Yuari Itun, BA Nama Anak :  1. Artya Fathra     2. Yurita Hopia   3. Yuritina Joisa   4. Yuritiani Hepi PENDIDIKAN 1984  : S1 Fisipol Unmul Samarinda 1999  : Program S2 Magister Management (MM) Universitas    Krisnadwipayana (UNKRIS) Jakarta 2005  : Program Doktoral S3 Spesialis Bidang Manajemen Publik ...

Desa Wisata Metun Sajau Kaltara

DESA METUN SAJAU merupakan salah satu desa wisata suku Dayak Kenyah yang berada di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.Desa Metun Sajau ditetapkan sebagai desa wisata oleh Kementrian Pariwisata RI pada tahun 2016. Mayoritas penduduk desa ini dihuni etnis Dayak Kenyah Bakung. Jarak menuju desa wisata ini sangatlah dekat, hanya 29 Kilometer dari Tanjung Selor, Ibu Kota Kabupaten Bulungan dan Provinsi Kaltara, atau sekitar 45 waktu tempuh perjalanan. Namun waktu tempuh bisa lebih cepat jika kondisi jalan yang sudah beraspal mulus. Desa Metun Sajau kental dengan budaya dan adat istiadat. Atraksi budaya dan pertunjukan seni seperti permainan olahraga tradisional dan tarian menjadi ciri khas yang dapat anda saksikan. Berikut beberapa pertunjukan dan permainan yang sering ditampilkan oleh penggiata budaya dan wisata Desa Metun Sajau: 1. ALENG Aleng merupakan permainan yang terbuat dari kayu. Aleng ini terdiri dari dua potong kayu, yang satu lebih panjang dan uj...

Bulan Purnama Blue Moon Tanda Serangan Setan dan Manusia Jadi-Jadian

Mitos Fenomena purnama yang biasa disebut  blue moon  atau  Bulan biru  masih dipercaya oleh sebagian orang hingga saat itu, di dunia barat, kemunculan  blue moon  erat hubungannya dengan  hal-hal berbau mistis. Peristiwa alam itu dianggap istimewa oleh kebanyakan orang karena kemunculannya termasuk langka. Meskipun blue moon adalah peristiwa purnama biasa, tetapi sebagian orang-orang Eropa zaman dulu menganggap kemunculannya berkaitan dengan sosok manusia serigala jadi-jadian alias  werewolf. ilmuwan di berbagai belahan dunia pun banyak yang mencoba mengungkap mitos yang berkaitan dengan Bulan purnama itu untuk mematahkan   tahayul Seputar  Bulan purnama, seperti: 1. Serangan setan yang memicu kejang-kejang Orang-orang Eropa zaman dulu kerap menghubungkan kejang-kejang yang terjadi secara tiba-tiba saat Bulan purnama sebagai bentuk serangan setan. Namun penelitian di jurnal  Epilepsy & Behavior  di tahun 2004 meny...